Ezzah Islam | Fitrah

“Dukturah,syu yakni i3tizaz az-zati”

Seorang pelajar arab terkebil-kebil mengangkat tangan sambil menanyakan soalan yang dilihat remeh oleh pelajar-pelajar lain

“Apa maksud kebanggaan diri?”

Rasa inkuiri yang tinggi untuk bertanya meski soalan itu kelihatan picisan bagi yang lain,tetapi pensyarah berambut pendek dan berskirt labuh berwarna hitam dengan seragam kemas membalut tubuhnya,cuba menyambut soalan itu dengan cara yang paling berseni.

“Ok Abdullah,awak duduk di mana ye?”seolah-olah pensayarah ingin mendekati pelajarnya dengan memulakan sesi taaruf.

“Ramsah, Dukturah”

“Ramsah,kat mana tu?Saya tak pernah dengar pun nama tu.”

Pandai pensayarah itu berlakon buat-buat tidak tahu,sedangkan siapa yang tidak kenal Ramsah.Salah satu daerah yang terdapat di Bumi Syam itu,Hashemite Kingdom of Jordan.

Seolah ada lampu mentol menyala di atas kepala,Abdullah peroleh idea,apa makna di sebalik i’ktizaz zati itu,kebanggaan diri sendiri.Saat kita bangga dengan sesuatu,pasti kita akan sediakan hujah-hujah panjang berjela bagi mempromosi sesuatu yang kita tahu,sesuatu yang kita cintai,sesuatu yang kita banggakan.

Begitulah agama,selama ini kita memeluknya,apakah kita merasa bangga,dan untuk apa dan atas sebab apa kita berbangga menjadi seorang Muslim?Nah,ana kongsikan bersama.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kita harus berbangga menjadi penganut agama Allah ini.Baik kelebihan yang ada pada Islam itu sendiri atau Faktor-faktor sedia ada.

Salah satunya ialah faktor fitrah.Fitrah seorang manusia yang sememangnya ingin hidup bersama individu-individu yang lain.Fitrah seorang manusia yang tidak betah duduk sendiri terpencil.Fitrah beragama yang Allah campakkan dalam diri kita.Memetik salah satu rangkap berbahasa arab

“الانسان مدني بالطبيعي”

Manusia itu secara semulajadi adalah makhluk sosial.Tidak boleh tidak satu sama lain pasti ingin hidup di bawah satu lembayung yang sama.

Memetik kata-kata berbahasa arab lagi,

“الناس من البدو والحاضرة,بعض لبعض,وان لم يشعر بالخدم”

[Kalau dibaca kena dengan barisnya,cantiklah bahasa dari sudut lenggoknya.].

Ayat di atas membawa maksud,manusia itu sama ada dari kampung atau pun desa adalah sebahagian dari sebahagian yang lain-lain,sedangkan masing-masing tidak merasai dan menyedari bahawa mereka adalah khadam [pembantu] antara satu sama lain.


   “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan ni’mat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda [kekuasaan]-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus [2]. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar. (31:31-32) “


Teringat sejenak,kisah gempa bumi yang pernah berlaku di Jepun seingat ana tahun lepas.Bagaimana ana difahamkan,ada beberapa orang Jepun yang rata-ratanya tidak percaya akan kewujudan tuhan,hilang arah saat diuji dengan bencana Alam itu.Mereka cuba bersujud,tetapi entah pada siapa mahu memohon.Lagikan menadah tangan,entah doa apa yang perlu dibaca dan kepada siapa harus meminta.

Kejadian ini menjadi salah satu bukti bahawa manusia itu seringkali merasa ingin bertuhan.Ingin bergantung kepada sesuatu bernama Illahi,Raja yang Memilki dan satu sembahan.Tinggal perlu ada insan yang memipin tangan.

Maka kita yang telah memiliki Sang Pencinta bernama Allah,izzahlah dengan kewujudan Dia,sebutlah nama-Nya saat kita lapang,sempit,duduk,berdiri,baring.Ucapkanlah Bismillah sebelum kita memulai suatu pekerjaan.Lafazkanlah Alhamdulillah saat kita menyudahkan suatu urusan.Tuturkanlah astaghfirullah dan innalillah saat teruji dalam kehidupan.Pujilah Allah dengan tahmid,tasbih,dan takbir yang diajarkan.Moga-moga dengan praktis itu,lidah yang basah ini memancarkan identiti islam yang menarik orang-orang muallafatu qulubuhum [dilembutkan hatinya] untuk menerima islam.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama [Allah]; [tetaplah atas] fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu. Tidak ada perubahan pada fithrah Allah. [Itulah] agama yang lurus; [1] tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” (30:30)

Advertisements

Sharing is caring :))

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: