Risalah pertama oleh Abbas Assisi

Wahai saudaraku di jalan Allah,

Salamullah ke atas kamu dan rahmat Allah serta keberkatanNya, manusia mengucapkannya sebagai kebiasaan tetapi kita mengucapkannya sebagai ibadah. Kita merasakan makna yang mendalam tatkala kita mengucapkannya. Salamullah ke atas kamu dan rahmat Allah serta keberkatanNya.

Sesungguhnya aku berdiri di atas mihrab solat dalam doa hamba yang benar membawa cinta dan kasih sayang. Aku mengucapkannya kepada kamu dengan ikhlas: Salamullah ke atas kamu dan rahmat Allah serta keberkatan-Nya dan doa pun sempurna. Aku berdoa kepada Allah s.w.t untuk kamu dengan salam, rahmat dan berkat. Sesungguhnya, doa ku dari hati, aku mencintaiMu tanpa aku melihatMu. Tetapi aku mencintai manusia dan aku melihat mereka dengan hatiku. Hati adalah gudang rahmat, cinta dan kehidupan. Dan hati yang menjadikan manusia disifatkan dengan kebaikan, kebenaran, rasa, kecantikan dan kehidupan,dan ini wasiat aku yang pertama untuk kamu supaya menjadikan seluruh jasad kita untuk kebaikan, kebenaran, rasa, malu dan indah. Kuasa malu itu dapat menundukkan hati, dan kuasa cantik itu dapat menundukkan akal. Dan kecantikan yang aku maksudkan ialah menjelaskan ruh itu dengan kejernihan wajah,

..pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud.. [al-fath:29].

 

Dan manusia yang memberi kebaikan ini di tunggu-tunggu dan mereka memiliki kurniaan untuk menjadi lilin yang menerangi manusia dan disokong lagi dengan kurniaan Allah kepada mereka dengan akhlak yang baik yang berdiri atas jalan Allah dan menyeru dengan kalimah Allah,

Dan sungguh,inilah jalan ku yang lurus.Maka ikutilah aku!Janganlah kamu ikuti jalan-jalan(lain) yang akan menceberaikan kamu dari jalanNya [al-an’am:153]

Wahai saudaraku,

Alam ini memerlukan kepada hati, emosi dan perasaan. Maka hati merupakan jantung kepada alam ini dan hidupnya dengan emosi dan perasaan. Sesungguhnya manusia yang hidup tanpa hati, emosi dan perasaan hanyalah hidup sebagai teori sahaja. Sesungguhnya manusia itu hati, jiwa dan perasaan. Dan apabila aku katakan emosi ini dengan gambaran pujian maka ianya bukanlah emosi mutlak tanpa batas atau halangan. Sesungguhnya emosi itu adalah nadi dan kehidupan dan ia terikat dengan usul syariah. Orang-orang yang berurusan dengan emosi jahiliyyah tidak akan sama kakinya berdiri dengan orang yang berurusan dengan emosi yang suci yang merupakan rahsia hidup seorang muslim dan rahsia wujudnya ruh.

Ia adalah kesedaran imam kami rahimahullah tentang hakikat ini ketika beliau berkata:

Wahai saudara-saudara: Adakah hawa nafsu yang mengekang perasaan dengan pandangan akal,d an adakah perasaan yang menyuluh pandangan akal kita.

Sesungguhnya perasaan muslim itu terikat dan berakar umbi dengan ketaqwaan kepada Allah s.w.t dan bukannya dari akal semata yang mengelilingi,memperbodohkan dan membunuh kita kerana perasaan itu adalah fiitrah.Telah datang islam yang suci membuka pintu-pintu kesucian dan kebersihan.

Terjemahan dari buku “Dakwah kepada Allah adalah cinta”

Oleh Abbas Assisi

Advertisements

Sharing is caring :))

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: